Jakarta (KABARIN) - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih mencatatkan surplus sebesar 4,03 miliar dolar AS. Capaian tersebut didukung oleh nilai ekspor yang mencapai 115,36 miliar dolar AS.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan pertumbuhan ekspor selama lima bulan pertama 2026 terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang meningkat 3,89 persen secara tahunan menjadi 110,19 miliar dolar AS.
Menurut BPS, tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia selama periode tersebut adalah China, Amerika Serikat, dan India. Ketiga negara itu menyumbang sekitar 44,20 persen dari total ekspor nonmigas nasional.
Di sisi lain, nilai impor Indonesia pada Januari hingga Mei 2026 mencapai 111,33 miliar dolar AS atau naik 15,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan impor didominasi sektor nonmigas yang tercatat sebesar 93,88 miliar dolar AS atau tumbuh 13,16 persen. Sementara itu, impor migas meningkat lebih tinggi, yakni 27,89 persen menjadi 17,45 miliar dolar AS.
Berdasarkan kelompok penggunaannya, seluruh kategori impor nonmigas mengalami peningkatan. Impor bahan baku dan barang penolong menjadi yang terbesar dengan nilai mencapai 79,40 miliar dolar AS atau naik 14,41 persen.
Selanjutnya, impor barang modal tercatat sebesar 22,12 miliar dolar AS setelah tumbuh 17,53 persen. Adapun impor barang konsumsi mencapai 9,81 miliar dolar AS atau meningkat 17,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, China masih menjadi pemasok utama impor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai 39,27 miliar dolar AS atau berkontribusi sekitar 41,83 persen terhadap total impor nonmigas.
Setelah China, posisi berikutnya ditempati Jepang dengan nilai impor sebesar 5,17 miliar dolar AS, disusul Australia yang menyumbang 5,02 miliar dolar AS.
BPS juga mencatat surplus perdagangan nonmigas ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan. Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus terbesar sebesar 13,92 miliar dolar AS, diikuti bahan bakar mineral sebesar 10,88 miliar dolar AS, besi dan baja 7,09 miliar dolar AS, nikel beserta produk turunannya sebesar 5,36 miliar dolar AS, serta alas kaki yang mencatat surplus 2,72 miliar dolar AS.
Sementara itu, pada Mei 2026 saja, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS. Nilai ekspor pada bulan tersebut turun 5,73 persen secara tahunan, sedangkan impor justru melonjak 22,16 persen. Kenaikan impor terutama didorong oleh impor nonmigas yang meningkat 14,89 persen menjadi 20,30 miliar dolar AS.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026